Laman

Total Tayangan Halaman

Rabu, 23 Maret 2011

LANIKA & STRAWBERRY

Pernikahan ini dimulai tanpa ada kata cinta yang tersampaikan dengan ucapan, tetapi suamiku dapat membuktikan dengan tindakan.. tidak ada pendekatan dengan berpacaran kesungguhan diantara  kami yang dirasakan. Tapi banyak hal dan kisah perjuangan persahabatan diantara kami. Kata romantis jauh dari prilaku dan perbuatan Teguh, tetapi untuk menjaga hubungan dengan penuh kasih hal ini kusadari lebih dari segalanya, hilanglah banyak keingiannku untuk menuntutnya agar lebih baik, karena prosesnya dia sudah sangat baik bagiku hingga pernikahan ini dalam 6 (enam) tahun bersama. Perjalanan saling mengenal dan mengerti membutuhkan proses panjang dan butuh banyak pengertian yang kami meski perjuangkan.

“Saya tidak terbiasa untuk sampaikan Vina, tapi yang sudah dapat kamu pastikan kita sudah memutuskan dalam pernikahan”.

Begitu pula aku, menjadi canggung dan dipenuhi guratan tanda tanya… tetapi yang kuyakini pernikahan ini tidak ada yang saling menghianati…. Karena kami sudah berikrar dihadapan Illahi Robbi. Kujalani awal ini seperti bersahabat dengannya… dilain pihak banyak yang bilang dan kuketahui awal pernikahan digeluti dan dipenuhi cobaan, berupa apakah itu? pada akhirnya kamipun turut merasakan.

Dia mengenalku sebagai perempuan pemikir dan penuh riang, dan dia kukenal sebagai lelaki yang dipenuhi  kebaikan tetapi rumit karena memiliki banyak hal yang dipikirkan. Tetapi yang paling kuyakini dari dia adalah memiliki tanggung jawab atas segala tindakan yang telah diputuskan.




“Apa alasan kamu untuk mau menerimaku”, hal ini sering kali dia pertanyakan padaku.

“Utama sekali bagiku, kamu aku yakini mau menerimaku apa adanya, dan segala yang kamu tahu tentang aku.

Kekakuan pernikahan ini merupakan bagian dari dimulainya percecokan diantara kami, karena kami berdualah sumber dari kesalahan dan emosi diri. Dimulai di awal kehamilanku untuk “Lanika” telah kami persiapkan nama ini dengan kesepakatan, menjadi “Strawberry” istilah bagi “Lanika”  karena asam, manis dan kesegaran adalah bagian dari Lanika.

“Lanika”, dia menyadarkan aku arti kesabaran dan penerimaan serta menyatukan dua perasaan dan pemikiran yang bergejolak dan dipenuhi emosi. Pengajaran yang selalu ku ingat dan tidak pernah terlupakan…. Melaluinya Tuhan berikan cobaan, cobaan dengan kesakitan… minggu pertama usianya, aku dibuat panik dengan pingsannya kala hujan, aku tunggu suami dengan gemetaran, kala itu kami diminta untuk tinggal dirumah orangtuaku, banyak pembicaraan masuk dan keluhan ketelingaku…  tapi yang kuharapkan hanya kehadiran Teguh untuk menemaniku ke Dokter. Tibalah hasil dia hanya tertidur pulas habis kedinginan. Bulan pun bertambah… Lanika, dia menjadi bahan perhatian tetangga sekitar serta keluarga, terutama Ibuku… nasehat dan masukan ini dan itu telah diutarakan, kadang maaf membuatku pusing dan tidak karuan, masukan baik Ibu serta nasehatnya kujalani, tetapi bila ada perbedaan pemikiran denganku, aku tinggalkan. Kadang ibu kecewa tapi inilah aku bersama keluargaku.

Bulan terus bertambah ku ingat kala masuki usia 3 (bulan), kupersiapkan mental dan phisik untuk menerusakan bekerja karena cuti yang sudah habis, dengan mencoba berikan lanika susu pendamping asi/formula, yang ada dia alergi berlebihan dan seringkali muntah. Sehingga kuputuskan untuk berhenti bekerja karena tanggung jawabku sebagai ibu kuingat.

Menjelang usia 4 (empat) bulan Lanika sering kali terkena Flu dan batuk serta demam hingga terus bertambah bulan bertumbuhan Lanika kurang memuaskan. Kondisinya Menjadi bahan perbandingan tetangga sekitar, serta keluarga… hal ini membuat aku sedih, sering kali terucap kok kecil tidak seperti ini atau itu. aku hanya tersenyum dan sedih…. Ini kembali kami alami dengan pengobatan dokter setempat, dikatakan Lanika hanya sakit batuk/flu. Karena Lanika tidak sembuh-sembuh dan pertumbuhan tidak baik menjadikan aku ragu untuk berobat dan check up ditempat yang sama, keragukan ini sebagai naluri seorang Ibu…

Bersyukur memiliki Kakak  yang sudah menikah dan memiliki putrid lebih dahulu yang begitu baik berbagi pengetahuan dan komunikasi denganku, aku sampaikan keluh-kesahku….

“Biar Lia, bantu dan temani untuk kedokter Nadine”

Kak Lia, membimbingku dengan caranya, dia bersedia menemaniku…

Butuh argumentasi hebat dan pada akhirnya aku dapat menyakini suamiku untuk turut serta mendukung kami dalam pemeriksaan di dokter yang lain. Terunggap dan terlihat jelas, apa hasil yang disampaikan Lanika terkena Flek Paru-paru (TB) semenjak usianya sekitar 4 bulan, dan baru tahu pada usia memasuki 9 bulan. Kami pun berusaha menerima kenyataan dan kondisi ini dengan berlapang dada. Kami rangkul bersama, kurawat dia dengan berusaha lebih sabar dan mengurangi emosi jiwaku yang berantakan, meski kepayahan dengan menyuapinya karena tidak mau makan dan selalu muntah aku tetap berjuang… dengan obat berjalan beberapa bulan awal, sudah terlihat perubahan dan proses pemulihan, kami meminta vitamin untuk dukungan phisiknya dan makanan menambah berat badan, dokter sangat mendukung.

Kesakitan Lanika tidak sampai disini, di usia perkembangan dan masa pengobatan, dia tetap aktif sehingga tangan yang kotor atau memasuki sesuatu kemulutnya yang tidak aku ketahui, membuat dia meski masuk ke rumah sakit perawatan dikarenakan diare yang berlebihan, 1 (satu) minggu dalam perawatan, bertemu dengan suster berbagai sifat dan pemikiran membuat aku kadang kesal, ada yang justru marah padaku karena alasan tidak bisa merawat Lanika dengan baik…. Meski sedih tapi aku tidak dapat berkata apa-apa, mungkin ada benarnya akulah yang meski bertanggung jawab padanya, seminggu dengan bokong seperti Apel merah, seminggu dengan selang dan pemeriksaan dan suntikan, tak lupa kakakku “Lia” member dukungan dengan kasih sayang (hal ini tak pernah terlupakan). Aku begitu jauh dari teman-teman, mungkin bisa dibilang aku tidak memiliki teman dekat yang kurasakan nyaman untuk berbagi, saat itu dibenakku hanya Suami yang meski kuperjuangkan untuk menjadi Sahabatku tempat aku menompang dalam kesedihan.

Proses pemulihanpun terus berjalan, “Alhamdulillah” perkembangan Lanika justru diatas normal… dia tetap menjadi bayi yang penuh semangat hidup untuk berjuang dari kesakitan. “Lanika “ Strawberry melekat dalam jiwamu…. Aku sudah tidak peduli kata orang yang meremehkan tumbuh kembang terutama berat badan “Lanika” berkat dukungan dari 2 kakak perempuanku lainnya Kak Desi dan Kak Kiki aku dapat mempertahankan sisi kebaikanku untuk penerimaan atau omongan tetangga dan orang yang hanya menilai dari sisi kekekurangan.
Puji dan ucapan Syukur, masa pengobatan 1 (satu) tahun kami tempuh dengan perjuangan dan kebersamaan, karena untuk yang memiliki sakit Flek Paru-Paru apalagi yang usia balita akan cepat terkontaminasi dengan penyakit lainnya, seperti bila orang lain sedang flu, Lanika akan cepat tertular atau sakit lainnya, akhirnya masa pemulihan kami lewati dengan suka, duka dan cita… yang ada tinggal kenangan dan cerita.

Meski untuk pertumbuhan dan berat badan tidak begitu memuaskan, tapi inilah aku sebagai pembawa… Alergi ada pada “Lanika” dari segi makanan harus banyak dijaga, karena ada kecenderungan sesak napas dan Batuk Flu yang berlebihan. Di usia 3 (tahun) kami meski lebih akurat untuk menjaga perkembangan dan makanan yang dikonsumsi, hingga saat ini.

Aku sadari dan kutahu “Lanika” lah yang memberikan perubahan besar dalam hidup berumah tangga kami, sehingga kami lebih dekat dan tidak kaku, serta dapat saling komunikasi, perjuangan hidup  kami rasakan bersama “Lanika” dengannya sampai saat ini kami selalu mengerti dan berusaha menyadari arti mendidik putra dan putri dengan kesabaran dan kasih sayang…. Lanika tidak sendiri, dia ditemani dengan saudara laki-laki dan perempuan, makin lengkap lah kami berjuang bersama untuk menjaga kesehatan dan menyimpan perbekalan untuk masa depan.

By levina Nyt 
 Naskah yang di ikutsertakan dalam "ketika buah hati sakit" - by. HamasahPutri.com dan IndiePublising

1 komentar:

Menghilangkan jejak kebaikan untuk komentar apapun sangat saya hargai.. salam